Kemitraan & Kegiatan
Merangkul Asa Tak Kena Sirna
MERANGKUL ASA TAK KENAL SIRNA
Kemitraan & Kegiatan
Light Community21 (LC21) memiliki capaian melalui berbagai programkolaboratifnya, seperti Elektrobot di Malang dan Cilacap dalam pendampingan inovasi di bidang teknologi dan pendidikan. Selain itu, TENDS membuka peluang enterpreneurship bagi siswa putus sekolah, PASS bersama YABN-Adaro, mendukung kesejahteraan santri melalui pendidikan vokasi, dan SAFE berkolaborasi dengan BPBD Kabupaten Balangan dalam mengadvokasi pengetahuan dan keterampilan siswa terhadap potensi kebakaran akibat korsleting listrik di rumah tinggal. Dengan komitmen pada kontribusi positif dan sinergi berkelanjutan, LC21 terus mendorong perubahan yang signifikan.





VOLTA_VOKASI LINTAS BATAS
VOLTA merupakan program pembelajaran vokasi yang diajarkan oleh lintas ahli bagi lintas lembaga/institusi dengan tujuan: (1) Memperluas pengalaman dan kebermaknaan belajar siswa, (2) Mendorong penerapan 4C skills dan praktik baik dalam pembelajaran, (3) Meningkatkan relevansi dan keterkaitan pembelajaran vokasi, (4) Mengembangkan kemandirian dan adaptabilitas siswa, (5) Mendukung link and match antar teori dan kondisi nyata. VOLTA akan memberi ruang yang cukup bagi pengembangan kompetensi abad 21 melalui berpikir kritis, kreatif, melalui komunikasi dan kolaborasi aktif dalam kerangka pembelajaran berbasis proyek yang bermakna.
Institusi pertama yang mengimplementasi VOLTA adalah SMPN 3 Batumandi. Melalui 11 kali pertemuan dalam rentang September-Desember 2025, siswa kelas VII-IX didampingi memahami dan menerapkan sistem kendali berbasis mikrokontroller.
Luminary Project x LightCommunity21
Proyek kolaborasi Luminary Global Education dan PT Maruwai Coal, dengan dukungan Light Community21 (LC21) sebagai tim observasi lapangan, merupakan inisiatif penguatan pendidikan vokasi bagi pemuda di wilayah ring 1 Adaro Metcoal Companies (AMC). Program ini bertujuan memetakan kondisi awal kesiapan kerja masyarakat melalui observasi di 16 desa, empat SMA, dan Dinas Tenaga Kerja Puruk Cahu.
Kegiatan ini menilai minat, bakat, serta tantangan yang dihadapi lulusan SMA dalam memasuki dunia kerja maupun memulai usaha. Selain itu, proyek meninjau kapasitas sekolah dan efektivitas pelatihan yang telah diberikan pemerintah, sehingga tergambar ekosistem vokasi lokal secara menyeluruh.
Berlandaskan prinsip pendidikan vokasi dalam Perpres No. 68/2022, program ini menekankan pentingnya kombinasi pelatihan jangka pendek dan pembelajaran berjenjang untuk membentuk keterampilan teknis sekaligus mindset kerja yang lebih konsisten dan adaptif. Temuan lapangan menjadi dasar bagi perumusan model pelatihan vokasi AMC yang dirancang agar lebih relevan, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat ring 1.







- Hari ke-1
- Hari ke-2
- Hari ke-3
Â

Kadang, perjalanan bukan sekadar tentang tempat yang dituju, tetapi tentang keberanian untuk melihat potensi di balik keterbatasan. Dengan semangat itu, kami memulai tur lapangan dalam proyek Luminary Global Education in Collaboration with PT. Maruwai Coal 2025 pada Senin, 1 Desember 2025. Empat desa di Kabupaten Murung Raya yaitu Dirung Sararong, Kohong, Liang Nyaling, dan Hingan Tokung menjadi tujuan langkah kami. Perjalanan dimulai dengan menyebrangi Sungai Barito yang diselimuti kabut pagi, lalu menyusuri jalur-jalur terjal yang kian menantang, terutama menuju Desa Kohong. Namun di balik kerasnya medan, kami menemukan kehangatan kehidupan masyarakat pedalaman: penyadap karet, petani padi ladang, pencari kayu, hingga pelaku usaha kecil yang menjalani hari dengan keteguhan sederhana.
Tujuan utama kami adalah memahami denyut ekonomi desa, menganalisis pekerjaan utama warga, kesiapan mereka berwirausaha, tantangan yang menghambat pertumbuhan, serta kebutuhan nyata yang dapat dijembatani melalui program CSR Adaro–Maruwai Coal. Kami juga menaruh harapan besar pada para alumni SMA yang kembali ke desa, generasi muda yang berpeluang menjadi motor perubahan, menyalakan kembali semangat wirausaha di tanah kelahiran mereka.
Dari satu titik pemukiman ke titik berikutnya, kami menyaksikan kehidupan sosial yang otentik dan peluang ekonomi yang menunggu untuk disentuh. Keempat desa memiliki pola pekerjaan yang relatif serupa: mayoritas warga bekerja sebagai penyadap karet, pencari kayu, petani padi, serta pengelola kebun jagung pakan dan coklat di Liang Nyaling. Usaha perikanan kolam terpal ikan nila, patin, dan lele cukup berkembang di Dirung Sararong dan Hingan Tokung, ditambah ternak ayam ras skala kecil di Dirung Sararong. Potensi-potensi ini membuka ruang bagi pelatihan, pendampingan, dan dukungan berbasis kebutuhan nyata, agar wirausaha desa dapat tumbuh, mengakar, dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.
Tim Tur Lapangan:
Izuddin Syarif & Suhada (Konsultan Luminary Project) @lpkluminary
Mas Robi (Enumerator Lokal)
Video kompilasi hari ke-1: https://www.instagram.com/reel/DSD-GaVkkga/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Hari kedua tur lapangan benar-benar membuka mata kami tentang arti keteguhan dalam keterbatasan. Di tengah jalan pedalaman yang rusak, licin, dan berlumpur, kami menyaksikan anak-anak berjalan kaki menuju sekolah, banyak di antaranya melangkah nyeker tanpa keluhan. Apa yang bagi banyak orang mungkin menjadi alasan untuk menyerah, justru bagi mereka menjadi bukti bahwa masa depan tetap layak diperjuangkan. Tantangan akses yang sama juga dialami para warga, namun semangat itu tidak pernah padam. Dari mereka, kami belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan bahan bakar untuk terus bertumbuh.
Potensi wirausaha yang kami temukan sepanjang perjalanan pun berlapis-lapis. Tumbang Masalo bertumpu pada pertanian padi, jagung, coklat, sawit, serta ternak ayam dan kambing, meski geliat wirausaha pemudanya masih terbatas akibat minimnya lulusan SMA. Kontras dengan itu, Batu Tojah menunjukkan kekompakan dan optimisme kuat, dengan peluang besar di perikanan dan peternakan yang siap melesat bila disokong modal, bibit, pelatihan, dan pasar. Tumbang Baloi hidup dari aktivitas mencari kayu, namun menyimpan potensi kopi dan nila terpal yang terhambat pemasaran; kehadiran SMK sangat diharapkan untuk menguatkan keterampilan lokal. Di Tumbang Bauh, usaha nila terpal dan ayam pernah berjalan namun tak berlanjut karena kurang pendampingan serta ketiadaan pasar, membuat pemuda banyak beralih ke pekerjaan perusahaan. Sementara Muara Tuhup memperlihatkan bentang usaha yang lebih beragam, dari budidaya ikan, warung sembako, padi ladang hingga penyadap karet meski warga masih sangat membutuhkan modal dan pelatihan yang belum pernah mereka dapatkan dari perusahaan.
Dari seluruh perjalanan ini, kami pulang dengan satu keyakinan: di balik jalan berlumpur dan segala keterbatasan, selalu ada cahaya semangat yang terus menyala. Tugas kitalah memastikan api itu tidak padam, melainkan tumbuh melalui pendampingan, peluang, dan keberpihakan nyata, agar mimpi anak-anak dan warga desa dapat melangkah lebih jauh, melampaui batas yang selama ini membatasi mereka.
Tim Tur Lapangan:
Izuddin Syarif & Suhada (Konsultan Luminary Project)Â @lpkluminary
Mas Robi (Enumerator Lokal)
Video kompilasi hari ke-2:Â https://www.instagram.com/reel/DSC-fn7D7Vb/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

Hari ketiga tur lapangan membawa kami pada pemahaman yang lebih dalam tentang akar tantangan dan peluang wirausaha di Kecamatan Batura. Di balik potensi besar pada sektor perikanan dari lele kolam terpal hingga keramba ikan mas serta komoditas yang mulai tumbuh seperti kopi, kakao, dan nilam, perjalanan ini memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi masyarakat tidak hanya ditentukan oleh sumber daya, tetapi juga oleh cara pandang dan kebiasaan yang sudah lama terbentuk. Staf kecamatan menegaskan bahwa pengembangan usaha masih terbentur sekat sosial antar kelompok agama, lemahnya pemasaran, dan minimnya minat wirausaha karena mayoritas lulusan SMA lebih memilih bekerja di perusahaan. Di sisi lain, mereka percaya bahwa pelatihan berbasis sekolah dapat menjadi titik temu yang netral dan inklusif untuk menumbuhkan semangat baru.
Pandangan Disnakertrans semakin memperjelas gambaran tersebut. Mindset instan, pelatihan yang tidak berkelanjutan, hingga paparan negatif yang dialami sebagian remaja menjadi hambatan yang tidak bisa diabaikan. Meski bantuan CSR sudah sering hadir, perubahan perilaku menjadi kunci yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan modal atau pelatihan sesaat. Namun, di tengah tantangan itu, tetap ada ruang harapan: pendekatan vokasi melalui SMA dinilai sebagai strategi paling realistis, asalkan dijalankan dengan pendampingan berkelanjutan dan kolaborasi nyata antara perusahaan, pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Penguatan pasar internal menjadi fondasi penting sebelum desa mampu menatap peluang yang lebih luas.
Di hari terakhir ini, kami kembali belajar bahwa pembangunan tidak hanya soal bantuan dan program, tetapi tentang menumbuhkan pola pikir baru dalam ruang-ruang yang paling sederhana. Dan seperti hari-hari sebelumnya, turlap ini menegaskan bahwa setiap desa memiliki cahaya semangatnya sendiri yang hanya perlu ditemukan, dirawat, dan diberi jalan agar bisa tumbuh menjadi kekuatan masa depan.
Tim Tur Lapangan:
Izuddin Syarif, Suhada, Supriyanto, & Hafizh Akbar Maulana (Konsultan Luminary Project)
Mas Robi (Enumerator Lokal)
Video kompilasi hari ke-3: https://www.instagram.com/reel/DSEUzuYikIC/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
SAFE
Students Advocating for Electricity Safety
SAFE; Student Advocating for Electricity Safety, memberikan edukasi dan pelatihan tentang keselamatan listrik kepada 60 siswa SMA sederjat di Kabupaten Balangan. Acara ini berlangsung di Aula Inspektorat Balangan pada hari Senin, 19 Mei 2025. Inisiatif ini merupakan proyek pemenang Global Teacher Grants (GTG) 2025 yang didukung The U.S. Department of State’s Bureau of Educational and Cultural Affairs (ECA) dan dikelola oleh IREX melalui skema sharing cost. SAFE diinisiasi oleh SMKN 1 Paringin serta melibatkan Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan, perwakilan industri, dan alumni LC21. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam mencegah terjadinya kebakaran yang disebabkan oleh pemasangan listrik yang tidak aman di rumah. Pentingnya hal ini terlihat dari fakta bahwa secara nasional, 29% kebakaran disebabkan oleh korsleting listrik, dengan angka tersebut mencapai 90% di kawasan pemukiman perkotaan.






Selain pelatihan, siswa juga berperan langsung dalam program Melayani Komunitas via Edukasi (MOVE), community service based vocational education, yaitu program perbaikan instalasi listrik di rumah-rumah warga masyarakat kurang mampu yang sudah dimulai sejak tahun 2020. Sampai saat ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 80 rumah, memperbaiki 425 titik perbaikan instalasi, dan melibatkan lebih dari 200 siswa sebagai teknisi lapangan. Program SAFE tidak hanya memperkuat keterampilan teknis siswa, tetapi juga membangun rasa kepedulian sosial serta mempromosikan budaya keamanan listrik di tengah masyarakat
SAFE terinspirasi dari program TENDS & MOVE
TENDS (Entrepreneurship Development For Dropout Students) merupakan sebuah program yang dibuat untuk memberikan pelatihan keterampilan berwirausaha bagi 60 siswa dengan latar belakang putus sekolah. Program ini dilaksanakan pada Juni 2023 dengan tujuan untuk mengasah dan memberikan kemampuan kepada siswa dalam pelatihan instalasi listrik, pembuatan pupuk dan desain grafis. MOVE (Community Service Based-Vocational Electrical) merupakan sebuah program yang dibuat dengan tujuan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memiliki instalasi listrik yang aman. Program ini dilaksanakan oleh siswa SMK jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL). SAFE (Studens Advocating for Electricity Safety) merupakan sebuah program lanjutan yang dibuat untuk mengasah kemampuan siswa yang berfokus pada bidang instalasi listrik. Penyuluhan Dan Pelatihan Singkat Bahaya Kebakaran Akibat Korsleting Listrik merupakan tema yang diangkat dalam SAFE yang memiliki tujuan untuk mengedukasi siswa melalui pelatihan instalasi listrik
MOVE
Community service based-vocational education
Program MOVE (Melayani Komunitas Via Edukasi) merupakan kegiatan community service based-vocational education yang menjadi bagian dari program Community Service. Kegiatan ini didukung oleh LC21, industri mitra CV Sumber Sekawan, PT Putri Prima Lestari, serta SINTELNAS97 yang membantu menyediakan sumber daya agar program dapat berjalan optimal. Dalam pelaksanaannya, siswa melakukan pemeriksaan dan perbaikan instalasi listrik lama yang berpotensi menimbulkan bahaya seperti korsleting dan kebakaran, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya instalasi listrik yang aman dan sesuai standar. Program MOVE tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko instalasi listrik yang tidak layak, tetapi juga memberikan pengalaman nyata bagi siswa SMK untuk berkontribusi langsung kepada lingkungan sekitar. Sejak tahun 2024, program ini mulai diperluas melalui kerja sama dengan beberapa sekolah di Kalimantan Selatan seperti SMKS Tabalong, SMKN 3 Amuntai, dan SMKN 2 Marabahan pada bidang keahlian yang sama. Pada tahun 2025, program MOVE juga berkembang ke Kediri, Jawa Timur melalui kerja sama dengan SMKN 1 Kras dengan layanan perbaikan, perawatan, dan pemasangan AC; SMK Dharma Bakti Kediri dengan layanan caregiving dan pijat terapi; serta SMK Pawyatan Daha 1 Kediri dengan layanan laundry.
Pembelajaran Mikrokontroler



SMP Muhammadiyah Malang
Kerjasama melalui program Elektrobot dengan SMP Muhammadiyah 2 Malang. Kegiatan pelatihan mikrokontroler Arduino ini diselenggarakan pada tahun 2023 oleh tim dan diikuti oleh 11 siswa dan siswi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang mikrokontroler. Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu (1) Pengenalan komponen Arduino, (2) Pelatihan dasar dengan pembuatan berbagai jenis proyek sederhana, dan (3) Ujian serta penilaian kinerja bagi setiap peserta sebagai bagian dari proses pelatihan.



SMKN 1 Cilacap
Kegiatan pendampingan pelatihan mikrokontroler Arduino yang dilakukan oleh Tim Elektrobot Misransyah dan Muhammad Fajar dengan salah satu siswi, merupakan bentuk kerjasama antara Elektrobot dengan SMKN 1 Cilacap, dalam rangka persiapan kompetisi Pemilihan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas & Angkutan Jalan Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2023. bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswi dalam penggunaan mikrokontroler sebagai bagian dari persiapan kompetisi.







TENDS_Entrepreneurship Development For Dropout Students
Pada tahun 2022, dibuka peluang seleksi bagi seluruh alumni Fulbright Teacher Exchange untuk mengajukan permohonan hibah dalam Global Teacher Grants (GTG) guna mendukung proyek-proyek berbasis pendidikan di komunitas mereka. TENDS menjadi salah satu pemenang yang mendapat dana hibah dari 55 proyek yang mewakili 29 negara. Program ini diimplementasikan pada Januri - Mei 2023 dan berkolaborasi dengan sekolah, industri, serta pemerintah kabupetan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) untuk memberikan pelatihan keterampilan berwirausaha bagi 60 siswa putus sekolah atau alumni sekolah menengah. Proyek-proyek pemenang lainnya juga diimplementasi oleh lebih dari 70 alumni Fulbright Teacher Exchange di seluruh dunia.
PASS_Program Adaro Santri Sejahtera



PASS adalah program pelatihan vokasi bagi pondok pesantren di Kalimantan Selatan. PASS merupakan kerja sama Light Community21 (LC21) dengan tim Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN) dari PT. Adaro. LC21 bermitra dengan guru kejuruan untuk mendampingi 5 ponpes di area kerja PT. Adaro, Kalimantan Selatan. Para pendamping ditugaskan langsung untuk ke lapangan mendampingi implementasi pendidikan vokasi bagi santri. PASS melalui beberapa tahapan mulai dari perencanaan, pembuatan jadwal, observasi langsung ke lapangan, mengumpulkan data, pelaporan hasil observasi, penanganan masalah di lapangan, strategi pengembangan, dan lain-lain. PASS menghasilkan jobsheet untuk beberapa produk seperti peternakan, budidaya, dan perkebunan yang digunakan sebagai media pembelajaran oleh ustadz dan santri untuk mengoptimalkan potensi individu sesuai minat dan bakat mereka. PASS bertujuan untuk mengembangkan kompetensi mengajar ustadz, menerapkan praktik sesuai prosedur jobsheet, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), dan membiasakan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) serta menumbuhkan jiwa wirausaha santri.
Update-Mustika 13/05/26








